RASIO UTANG PEMERINTAH HAMPIR MENCAPAI 35% TERHADAP PDB, RUPIAH SEMAKIN TERTEKAN

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan ke II 2018 melambat. ULN indonesia pada akhir triwulan ke II tercatat sebesar 355,7 milyar dolar AS. Terdiri dari utang pemerintah dan Bank Sentral sebesar 179,7 milyar dolar AS. Serta utang swasta sebesar 176.0 milyar dolar AS, triwulan II 2018 tersebut tercatat tumbuh 5,5% (yoy) melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang mencapai 8,9% (yoy) Perlambatan pertumbuhan ULN tersebut bersumber pada melambatnya pertumbuhan ULN baik di sektor pemerintah maupun sektor swasta. Rasio utang luar negeri Indonesia terhadap PDB saat ini berada pada 34.79%.

Sumber: databooks.co.id

Akan tetapi pemerintah mengklaim bahwa utang Indonesia masih sangat wajar. Berdasarkan UU no 7 tahun 2003, batas maksimal utang negara adalah sebesar 60% dari PDB dan kementerian keuangan mempunyai batasan tersendiri terhadap utang tersebut dibawah 60% PDB.

Sedangkan PDB Indonesia pada triwulan ke II 2018 mencapai Rp. 3.683,9 triliun. Tumbuh sebesar 9,43% dari triwulan yang sama pada tahun 2017 yang tumbuh sebesar 5,05%.

Sumber : databoks.co.id

Meskipun begitu, pemerintah mengklaim bahwa utang tersebut 60% dalam bentuk rupiah dan 40% dalam bentuk dolar, sehingga kenaikan mata uang dolar tidak berdampak begitu besar bagi utang indonesia, dan Indonesia mampu membayar utangnya setiap jatuh tempo. Bank Indonesia berkoordinasi dengan pemerintah terus memantau perkembangan ULN dari waktu ke waktu untuk mengoptimalkan peran ULN dalam mendukung pembiayaan pembangunan, tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

Pemerintah sudah melakukan kebijakan-kebijakan untuk membuat pasar keuangan tetap bergairah, melalui kenaikan suku bunga acuan sebesar 5,50%. sehingga para investor asing tertarik untuk berinvestasi, aliran modal asing inilah yang akan digunakan pemerintah untuk membiayai Current Account Deficit. Perbaikan defisit transaksi berjalan dapat menguatkan nilai tukar rupiah karena kepercayaan asing untuk berinvestasi di Indonesia dengan adanya kenaikkan suku bunga acuan tersebut. Pemerintah juga telah melakukan reaktivasi terhadap SBI (Sertifikat Bank Indonesia) sebagai upaya untuk menstabilkan nilai rupiah, akan tetapi SBI belum diminati investor asing. Dan kebijakan ini belum menunjukkan hasil, terbukti pada saat ini rupiah semakin tertekan. Investor belum berani mengambil resiko, mereka masih khawatir jika pemerintah akan mengalami gagal bayar.

Bank Sentral Amerika Serikat diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuanya pada pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) bulan september mendatang. Meskipun pemerintah telah melakukan langkah antisipasi, akan tetapi tekanan dolar AS terhadap rupiah diprediksi masih akan berlanjut. Hal ini dikarenakan aksi Carry Trade Action yaitu aksi ambil untung dari perbedaan tingkat suku bunga antar negara. Penguatan dolar AS ini hampir terjadi pada semua negara berkembang. Depresiasi terhadap rupiah belum mengkhawatirkan. Pelemahan rupiah juga belum menjadi indikator Indonesia terkena imbas dinamika ekonomi dunia.

Pemerintah terus bertekad untuk menurunkan rasio utang Indonesia hingga mencapai kisaran 29,5-31% terhadap Product Domestic Bruto {PDB) pada tahun 2020. Pemerintah mengklaim telah mengupayakan berbagai cara untuk mengdongkrak pertumbuhan ekonomi seperti melakukan pengendalian impor, memanfaatkan Biodiesel (B20), Perbaikan sistem dan pengolaan pajak, promosi di sektor ekspor. Dan pemerintah juga akan memastikan antara penerimaan dan belanja pemerintah agar tetap seimbang sehingga dapat menjaga defisit anggaran sekitar 1,8%.

Pemerintah tetap optimis, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada jalur yang benar hal ini ditunjukkan dengan penurunan rasio kemiskinan, kesenjangan, dan akselerasi pertumbuhan ekonomi yang terus membaik. Hal itu semua dicapai ditengah perlambatan dan ketidakpastian ekonomi global. Ini menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia masih cukup baik dalam menghadapi permasalahan global seperti perang dagang yang terjadi antara Amerika dan Tiongkok.

Sumber : Bank Indonesia

Seiring dengan penguatan dolar dipasar global nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah, Tercatat hingga saat ini tanggal 24 Agustus 2018 pukul 1.35 WIB berdasarkan data Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) rupiah ditransaksikan Rp 14.655 per dolar Amerika, melemah 35 poin dari kurs Jisdor kemarin tanggal 23 Agustus 2018 yang berada di level Rp. 14.620 per dolar Amerika.

Nilai rupiah yang semakin tertekan ini dikarenakan meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap hasil pertemuan antar delegasi Amerika Serikat dan Tiongkok. Jika pertemuan gagal mencapai titik temu, maka perang dagang antara kedua negara dipastikan akan berlanjut. Sementara Fundamental dalam negeri belum ada sentimen positif yang bisa mendorong penguatan rupiah kedepannya. Dan rupiah masih diprediksi tertekan untuk beberapa hari kedepan.

Aktivitas Trading Forex dan Kontrak Berjangka (CFD) tidak untuk semua kalangan investor dan memiliki risiko tinggi kerugian dalam waktu singkat karena penggunaan leverage. 75-90% investor ritel mengalami kerugian dalam aktivitas trading produk-produk ini. Anda harus benar-benar menimbang terlebih dahulu bahwa anda mengerti cara kerja CFD dan bahwa anda mampu menanggung risiko tinggi yang bisa berdampak pada kerugian uang.